Menyoal Rezim Suku Bunga Tinggi

Rezim suku bunga tinggi di Indonesia saat ini menggambarkan beberapa hal yakni menguntungkan bagi para bankir dan pemilik dana namun tidak bagi para debitur (pengusaha), terlebih pelaku usaha menengah ke bawah. Menguntungkan bagi bankir karena spread interest rate nya tinggi. Menguntungkan bagi pemilik dana karena suku bunga deposito/tabungan yang tinggi dan mencekik pelaku usaha karena suku bunga kredit tinggi.

Spread interest rate di Indonesia tergolong tinggi dibandingkan dengan negara kawasan ASEAN. Data tahun 2014 menunjukkan interest rate spread Indonesia mencapai 3,9 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia sebesar 1,5 persen; Vietnam 2,9 persen dan Tiongkok 2,9 persen. Jika dibandingkan dengan Singapura dan Thailand yang masing-masing sebesar 5,2 persen dan 4,8 persen, Indonesia masih tetap tertinggal jauh dikarenakan suku bunga kreditnya masih jauh lebih tinggi dari kedua negara tersebut.

Bagi pemilik dana suku bunga deposito di Indonesia masih menarik. Kemenarikan ini disebabkan oleh besarannya yang tinggi dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN. Masih pada tahun yang sama, suku bunga deposito di Indonesia sebesar 8,8 persen; Malaysia sebesar 3,0 persen; Singapura sebesar 0,1 persen; Thailand sebesar 2,0 persen; Vietnam sebesar 5,8 persen dan Tiongkok sebesar 2,8 persen.

Bagi pelaku usaha, tingginya suku bunga perbankan menjadi kendala tersendiri dalam mengembangkan sektor riil. Suku bunga tinggi akan menjadikan penyaluran kredit tidak optimal yang berdampak sulit berkembangnya sektor riil berkembang dikarenakan akses terhadap dana perbankan tidak optimal.

Bila dibandingkan dengan negara-negara kawasan di ASEAN, suku bunga kredit di Indonesia terbilang paling tinggi. Pada tahun 2014, tingkat suku bunga kredit di Indonesia berada pada posisi 12,6 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia  sebesar 4,58 persen; Singapura sebesar 5,35 persen; Thailand sebesar 6,77 persen; Vietnam sebesar 8,66 persen dan bahkan dibadingkan dengan Tiongkok hanya sebesar 5,6 persen.

Sebab Musabab

Tingginya suku bunga di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor tersebut diantaranya adalah cost of fund yang tinggi, premi resiko, overhead cost yang tidak rendah serta margin keuntungan. Kontribusi biaya dana (cost of fund) dan overhead cost berkontribusi sekitar 65 persen dalam pembentukan suku bunga pinjaman.

Salah satu pembentuk biaya dana adalah struktur kepemilikan dana yang saat ini masih didominasi sejumlah kecil deposan. Akibatnya, deposan yang jumlahnya kecil ini memiliki daya tawar yang tinggi terhadap bank. Daya tawar ini tidak jarang berbuntut pada tuntutan besaran bunga sama dengan bunga LPS.

Selain struktur kepemilikan dana, faktor lain adalah inflasi. Inflasi di Indonesia terbilang lebih tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN. Pada periode 2011 – 2015, rata-rata inflasi Indonesia berkisar 5,6 persen, Malaysia 2,5 persen, Singapura 2,05 persen dan Thailand 2,72 persen.

Implikasi dari tingginya inflasi adalah suku bunga nominal sulit untuk turun dikarenakan adanya prinsip real interest rate positive. Dalam jangka panjang suku bunga harus melebihi inflasi agar daya beli masyarakat, terutama penabung, tidak berkurang dan juga sebagai instrumen pencegah capital outflow.

Komponen berikutnya dalam pembentuk suku bunga adalah premi resiko. Sekitar 50 persen total kredit perbankan di Indonesia dialokasikan pada kredit usaha mikro kecil dan menengah. Segmen kredit UMKM ini merupakan segmen kredit yang dianggap mempunyai risiko relatif tinggi dibandingkan dengan jenis kredit lainnya. Sebabnya adalah nilai jaminan rendah dan skala ekonomisnya kecil.

Komponen ketiga pembentuk suku bunga kredit adalah overhead cost. Overhead cost perbankan di Indonesia masih tinggi dikarenakan sektor perbankan di Indonesia masih dalam tahap pertumbuhan dan belum terlalu efisien. Hal ini terlihat dari tingkat kedalaman sektor keuangan di Indonesia yang masih rendah. Saat ini kedalaman sektor keuangan Indonesia berkisar pada angka 30 persen dari produk domestik bruto. Angka ini jauh jika dibandingkan dengan Korea Selatan sebesar 109 persen, Singapura 102 persen, dan Thailand 97 persen.

Terakhir adalah profit margin. Keuntungan disesuaikan dengan tingkat risiko jenis pinjaman. Tingkat risiko yang tinggi, akan mejadikan profit margin nya juga tinggi. Risiko kredit di Indonesia bukan hanya ditentukan oleh jenis pinjaman itu sendiri, namun juga melihat aspek-aspek di luar itu.

Usaha Penurunan

Diperlukan usaha bersama stakeholder yang terlibat dalam industri perbankan untuk menghilangkan rezim suku bunga tinggi. Pemerintah bisa berkontribusi dalam menurunkan tingkat inflasi bersama Bank Sentral. Sifat inflasi Indonesia yang lebih didominasi oleh supplay side mengharuskan pemerintah lebih aktif dalam penyediaan infrastruktur yang bisa memperlancar arus barang dan jasa di seluruh pelosok negeri. Keberadaan tim pengendali inflasi, baik di level nasional ataupun daerah patut untuk dijaga dan dioptimalkan fungsinya.

Premi resiko pada kredit UMKM yang tinggi bisa ditekan dengan memperlus Jamkrida -jaminan kredit daerah-. Peran pemerintah daerah sangat diperlukan dalam hal ini disebabkan pendanaan jamkrida berasal dari anggaran penerimaan dan belanja daerah. Adanya premi resiko yang rendah akan berdampak juga pada penurunan profit margin yang diinginkan oleh perbankan.

Penurunan overhead cost bisa dilakukan dengan mengoptimalkan branchless banking yang setali tiga uang dengan program kebijakan keuangan inklusif yang digalakkan oleh pemerintah dan bank sentral.

________________

Pernah dimuat di Kolom Majalah Stabilitas No 116, 16 Februari– 15 Maret 2016, Tahun XI,

Who am I?

Who am I?

I am Rusli Abdullah born 29 years ago in Kebumen -a small district that located on the southern coast of Central Java. I spent my childhood until high school in Kebumen. In 2003, after graduating from senior high school, I continued my undergraduate program at Faculty of Economics, Diponegoro University Semarang, major in Economics and Development Studies. Finished my study in 2008, I continued my journey with Suara Merdeka Newspaper as a reporter until September 2009. September 2009 until now, researcher is my job. When doing my job as a researcher at Institute for Economic Research and Social Studies Semarang, I got a scholarship from Ministry of Higher Education; Beasiswa Unggulan BKLN-DIKTI Scholarship. I continued my school at Master of Economics and Development Studies, Faculty of Economics Diponegoro.

Now, I am still at Interess. While I am doing my work, I am looking for another researcher position in another institution that offered more benefit, opportunity to me.

I like writing, travelling, reading, thinking, sketching and sleeping…

welcome back

Welcome back

After a few times, I haven’t written on the blog, now I come back. There’s one year more when I wrote on rushleenomics.blogspot.com.  Why there’s long time? I will not tell the reason why…:p

With this article, I will announce that my old blog (rushleenomics.blogspot.com) is not useful again. The reasons are: first, that blog is to specify on the economic issues-the main subject of my college (undergraduate and postgraduate (master) program).  It can be seen from the title of the blog, right?. Second, I will not make the border my article on specify issues as economics. I am not just economist but I am a writer too.

In my plan, I will fill up the blog with articles that related to my hobby, daily experience, my opinion on economics, political economics, and social studies.

By the way see you soon on my next article. I hope I can give you the value that give you a new perspective in this life…..