Rupiah Menguat, Jangan Senang Dulu

Rupiah menguat terhadap US Dollar sejak titik terendah keterpurukannya di akhir September lalu. Hingga Kamis, 15/10, rupiah sudah menguat sebesar 9,77 persen sejak titik terendahnya di pada 29 September 2015.  Penguatan tersebut adalah penguatan terkuat di antara negara-negara kawasan jika dilihat dari titik terendah masing-masing depresiasi nilai mata uangnya. Dollar Singapura menguat 3,54 persen dibandingkan dengan US Dollar Amerika. Pun dengan Ringgit yang menguat 7,89 persen, Peso Philipina 2,14 persen, Bhat Thailand menguat 3,43 persen dan dollar Vietnam 0,73 persen.  Namun sayang, penguatan tersebut lebih dikarenakan faktor non fundamental, bukan faktor fundamental.

Non Fundamental

Penguatan rupiah lebih dikarenakan adanya sentiment positif dari ekstenal Indonesia yakni penundaan suku bunga The Fed. Hal ini bisa terlihat oleh adanya penguatan mata uang regional yang secara hampir bersamaan pasca pengumuman penundaan suku bunga The Fed. Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada awal September kemarin menunda kenaikam suku bunga The Fed. Spekulasi yang muncul adalah suku bunga ditunda kenaikannya hingga awal 2016. Alasannya perekonomian Amerika belum pulih benar. Namun demikian, ada dua peluang kenaikan suku bunga The Fed mengingat Federal Market Open Committee masih akan menggelar rapat pada Oktober dan Desember mendatang.

Faktor berikutnya adalah masih tingginya suku bunga acuan bank Indonesia yang masih bertengger di angka 7,5 persen. Dibandingkan dengan negara-negara kawasan, nilai suku bunga tersebut adalah yang tertinggi. Tingginya suku bunga tersebut menjadi insentif yang sangat menarik bagi para investor, terlebih portfolio. Dampaknya, dollar tidak sedikit yang nyangkut ke Indonesia.

Data transaksi finansial Indonesia lebih didominasi oleh transaksi portfolio. Hal ini sudah dimulai pada tahun 2014. Pada tahun 2014, transaksi finansial portfolio melebihi transaksi FDI nya yakni 26,05 miliar dollar. Sedangkan transaksi finansial FDI kita hanya sebesar 15,96 miliar dollar Amerika, pun pada kuartal II 2015. Pada kuartal II 2015, nilai transaksi finansial portfolio Indonesia sebesar 5,7 miliar Dollar Amerika, sedangkan Foreign Direct Investment (FDI) hanya sebesar 3,62 miliar US Dollar.

Fundamental Rapuh

Faktor penopang rupiah kita jauh dari kuat. Hal terlihat dari indikator transaksi berjalan kita yang negatif, cadangan devisa yang menurun dan utang yang melonjak. Keempat indikator tersebut di atas menunjukkan symptom tertekannya rupiah yang tertuang dalam kerangka permintaan dan penawaran rupiah dan dollar Amerika di pasar.

Transaksi berjalan Indonesa sejak tahun 2012 bernilai negatif. Transaksi berjalan Indonesia pada tahun 2012 sudah defisit 24,418 miliar. Hingga kuartal II 2015, defisit pun masih terjadi dengan nilai defisit sebesar 4,47 miliar dollar Amerika. Defisit ini dimulai ketika defisit migas mulai terjadi di tahun 2011. Transaksi neraca berjalan yang negatif menjadi pertanda tekanan terhadap rupiah semakin besar yang direpresentasikan oleh besarnya permintaan US Dollar Amerika yang terus meningakat dibandingkan dengan permintaan terhadap rupiah.

Apabila dilihat lebih detail, selain defisit migas, pos penyumbang yang menjadi sebab transaksi berjalan yang negatif adalah pos neraca jasa dan pendapatan primer. Pada tahun 2014, defisit transaksi jasa sebesar 10 miliar dollar Amerika, sedangkan defisit pendapatan primer sebesar 29,6 miliar dollar Amerika.

Besarnya tekanan defisit transaksi berjalan menjadi sumber tekanan bagi terciptanya nilai defisit balance of payment. Sejak 2010, balance of payment kita mengalami defisit pada tahun 2013 sebesar 7,32 mililar Dollar Amerika.

 

Cadangan devisa kita tergerus hebat. Awal tahun 2015, jumlah cadangan devisa Indonesia sebesar 115,5 miliar Dollar Amerika menjadi sebesar 101,72 miliar US Dollar atau menurun sebesar 13 persen. Sebuah angka penurunan yang bisa dikatakan besar. Bisa dipastikan angkanya akan terus menurun atau setidaknya stagnan di tengah ketidakpastian kapan the Fed akan menaikan tingkat suku bunganya.

Indikator berikutnya adalah nilai utang Indonesia yang semakin membengkak. Membengkaknya utang luar negeri, dampak yang bisa dirasakan adalah dampak dalam jangka panjang, seperti apa-apa yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998. Hingga Juli 2015, total utang luar negeri Indonesia mencapai 303,67 juta dollar Amerika. Nilai tersebut meningkat 3,76 persen dibandingkan posisi pada bulan Juli 2014 sebesar 292,7 juta dollar Amerika.

Jika dibandingkan dengan nilai produk domestik bruto Indonesia, nilai tersebut di atas sudah melebihi 30 persen PDB. Bahkan sejak kuartal 1 2014, porsi utang luar negeri Indonesia sudah mencapai 30,98 persen. Hinggga kurtal 2 2015, hutang luar negeri Indonesia sudah mencapai angka 34,43 persen PDB. Sebuah angka yang sudah melebihi ambang batas yang “aman” sebesar 30 persen.

Terakhir, besaran investasi portfolio yang lebih menarik dibandingkan dengan investasi langsung. Hal tersebut terlihat dari dari besaran investasi portfolio yang melebihi investasi FDI nya. Akibatnya adalah rupiah akan semakin mudah untuk mendapat guncangan dari mudah lalu lalangnya portfolio, terlebih sistem exchange rate Indonesia yang menganut rezim devisa bebas.

Inti utama kebijakan yang harus dilakukan adalah bagaimana permintaan terhadap US dollar relatif lebih kecil dibandingkan dengan permintaan terhadap rupiah. Indikator yang bisa dijadikan sebagai ukuran adalah melihat balance of payment. Nilai transaksi berjalan harus dibuat positif. Itulah yang menjadi tantangan Indonesia baik di jangka pendek maupun jangka panjang.

Jika melihat paket ekonomi-paket ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah, upaya menutup defisit transaksi berjalan sudah bagus. Hanya tinggal implementasinya agar tidak terwujud fundamental nilai tukar kuat yang direpresentasikan oleh nilai positif balance of payment dan juga transaksi berjalan kita. Jadi jangan teralalu euphoria terhadap penguatan rupiah, masih ada jalan panjang yang harus dilalui (*).

_________________

*) Tulisan pernah dimuat di Opini Kontan, 20 Oktober 2015

Sandera Trio Defisit terhadap Rupiah

Pemerintahan JOKOWI-JK tidak memiliki keleluasaan dalam mengendalikan pelemahan rupiah akhir-akhir ini. Salah satu penyebabnya adalah jeratan trio defisit yang mencakup defisit perdagangan, neraca berjalan dan defisit keseimbangan primer). Defisit tersebut membatasi gerak ruang fiskal pemerintah dalam berpartisipasi dalam mengatasi gejolak rupiah. Di sisi lain Bank Indonesia terlihat “tenang” dengan pelemahan rupiah. Terlebih adanya faktor eksternal terkait dengan tren penguatan dollar terhadap hampir semua mata uang di tingkat regional. Dimana hal ini tidak bisa dijangkau oleh pemerintah, pun Bank Indonesia sendiri sebagai otoritas moneter.

Dibandingkan dengan mata uang lain di kawasan regional ASEAN, Australia, China, India dan Jepang, rupiah merupakan mata uang yang paling tergerus. Data satu bulan terakhir (16/02 – 16/03) menunjukkan nilai Rupiah terhadap dollar Amerika turun sebesar 3,39 persen. Hal ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Ringgit Malaysia sebesar 3,19 persen, Dollar Singapura sebesar 2,41 persen, Bhat Thailand sebesar 1,09 persen, Dollar Australia sebesar 1,79 persen, Rupee India sebesar 0,74 persen dan Jepang 2,28 persen. Hanya China yang nilai Renmibi-nya menguat sebesar 0,01 persen pada kurun waktu yang sama.

Instrumen Fiskal

Satu-satunya cara dan legalitas yang bisa dilaksanakan oleh pemerintah dalam campur tangan gejolak rupiah adalah melalui instrument fiskal. Namun sayang, empat paket kebijakan pemerintah dalam menangkal pelemahan rupiah, penulis anggap belum memadai. Empat paket kebijakan yang diumumkan Senin (15/03)  hanya bersifat menahan agar demam tidak semakin tinggi ketika flu melanda. Bukan digunakan untuk memulihkan imunitas tubuh (perekonomian) dalam mengatasi serangan virus influenza (serangan pelemahan rupiah).

Kebijakan tersebut meliputi pengenaan bea masuk anti dumping dan bea masuk pengamanan sementara untuk produk-produk impor yang terindikasi dumping. Kedua, insentif pajak bagi perusahaan Indonesia yang produknya minimal 30 persen untuk pasar ekspor. Ketiga pemberian bebas visa bagi para wisatawan yang hendak berkunjung ke Indonesia. Sedangkan paket keempat ialah meningkatkan komponen bahan bakar nabati (BBN) dalam bauran energi nasional Indonesia agar impor minyak dan bahan bakar minyak (BBM) bisa dikurangi.

Triple defisit yang menjangkiti Indonesia saat ini berujung pada permintaan dolar Amerika yang tinggi. Sesuai hukum permintaan-penawaran, permintaan yang tinggi harus dibarengi dengan penawaran yang tinggi pula, agar harga tidak semakin tinggi dan bisa berangsur turun. Dalam hal ini, guna mengimbangi permintaan dolar yang tinggi, maka permintaan dolar harus diimbangi dengan adanya penawaran dolar/permintaan terhadap rupiah.

Ikhtiar mengimbangi permintaan dolar Amerika dengan keempat paket kebijakan tersebut belum bisa meredam gejolak rupiah. Hal ini didasari pada fundamental ekonomi Indonesia yang tidak sekuat Negara-negara lain di kawasan. Transaksi berjalan Indonesia pada 2012 sudah defisit 24,418 miliar dolar Amerika dan angkanya meningkat menjadi minus 26,23 miliar dolar Amerika. Transaksi perdagangan kita defisit sebesar 1,88 miliar dolar Amerika pada 2012 meningkat menjadi minus 3,63 miliar dolar.  Di sisi lain keseimbangan primer sudah mencapai defisit sebesar 26,62 miliar dollar Amerika pada 2012. Angkanya meningkat menjadi minus 27,81 miliar dollar Amerika.

Paket Kebijakan          

Keempat kebijakan yang dikeluarkan beberapa hari lalu, tidak akan berpangaruh besar terhadap penawaran dan permintaan dolar Amerika yang berimplikasi pada penguatan nilai rupiah. Pasalnya besaran trio defisit yang menjerat perekonomian Indonesia.

Paket kebijakan pertama berupa pengenaan bea masuk anti dumping dan bea masuk pengamanan sementara untuk produk-produk impor yang terindikasi dumping. Paket kebijakan insentif pajak bagi perusahaan Indonesia yang produknya minimal 30 persen untuk pasar ekspor. Kebijakan tersebut tidak akan menggenjot ekspor Indonesia mengingat tren penurunan ekspor Indonesia sudah mengkhawatirkan dan disebabkan oleh menurunnya permintaan komoditas  ekspor Indonesia di dunia. Hal ini terlihat dari penurunan total ekspor barang Indonesia yang menurun dari  187,34 miliar dolar Amerika pada 2012 menjadi 175,28 miliar dolar Amerika 2014.

Ketiga pemberian bebas visa bagi para wisatawan yang hendak berkunjung ke Indonesia. Pariwisata menjadi salah satu sektor penghasil devisa terbesar di Indonesia. Data dari Kementerian Pariwisata pada tahun 2014 menunjukkan devisa Indonesia dari sektor pariwisata sebesar 10,69 miliar dollar Amerika atau setara dengan Rp 136 triliun. Lebih lanjut, kebijakan bebas visa akan menambah devisa sebesar  hampir 1 miliar dollar Amerika. Namun angka peroleh devisa tersebut masih belum menutupi defisit neraca jasa yang pada tahun 2014 defisit sebesar 10,53 miliar Australia.

Paket terakhir dari paket kebijakan Kabinet Kerja adalah meningkatkan komponen bahan bakar nabati (BBN) dalam bauran energi nasional Indonesia agar impor minyak dan bahan bakar minyak (BBM) bisa dikurangi. Defisit neraca migas kita semakin lebar. Angkanya meningkat dari minus 5,23 miliar dollar Amerika pada tahun 2012 menjadi minus 11,83 miliar dollar Amerika pada 2014. Besaran minus neraca migas ini tidak akan bisa optimal dikompensasi oleh kenaikan bauran BBN dalam negeri (*).

_____________

*) Pernah Dimuat di Opini Kontan, 24 Maret 2015.